FOLLOW US ON SOCIAL

Diposting

07
Juli
2021

Terpukul Lonjakan COVID-19 Bank BCA Catat Lesunya Permintaan Kredit

JAKARTA, KT – Di masa pandemi Covid-19 dan tingginya kasus Covid-19, banyak korporasi yang bisnisnya terpukul akibat dampak pandemi yang melanda Indonesia dan global sejak Maret tahun lalu.

Kondisi ini pula yang berimbas pada masih lesunya permintaan kredit modal kerja (KMK) yang dialami perbankan Tanah Air, termasuk PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), bank dengan kapitalisasi pasar saham terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja menyampaikan, BCA turut mencatatkan penurunan penyaluran kredit modal kerja baru karena banyak perusahaan yang masih menahan ekspansi bisnis.

“Penggunaan kredit modal kerja sebelumnya 70% sekarang 60-65%. Bahkan mereka gunakan modal pribadi,” kata Jahja, dalam paparannya di acara webinar bertajuk “Economic Outlook Prospek Ekonomi Pasca-Stimulus dan Vaksinasi, Selasa (6/7/2021).

Sampai dengan periode kuartal pertama di tahun ini, emiten bersandi BBCA ini tercatat menyalurkan kredit sebesar Rp 586,8 triliun.

Sedangkan, penyaluran kredit untuk korporasi mencapai Rp 262,6 triliun. Porsi penyaluran kredit terbesar selanjutnya disalurkan ke kredit komersial dan UKM sebesar Rp 178,9 triliun.

Jahja menilai, di masa yang sulit akibat pandemi ini, pengusaha cenderung menahan diri untuk mengambil pinjaman baru untuk ekspansi. Mereka cenderung menggunakan ekuitas dari internal perusahaan.

“Mereka tombokin equity, belum ambil pinjaman,” kata Jahja.

Sementara itu, pada kesempatan sama, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menilai, kebijakan PPKM Mikro Darurat yang mulai dilakukan sejak 3 Juli hingga 20 Juli mendatang di Jawa-Bali akan berimbas terhadap perekonomian nasional, salah satunya adalah penyaluran kredit yang tak seoptimal biasanya.

Wimboh menargetkan, penyaluran kredit di tahun ini akan tumbuh pada kisaran 6% plus minus 1% dari sebelumnya 7% plus minus 1%. Sedangkan, Dana Pihak Ketiga (DPK) diproyeksikan akan tumbuh di kisaran 11% plus minus 1%.

“Fungsi intermedasi ke depannya berpotensi kembali mengalami tekanan seiring dengan pemberlakukan kebijakan pengendalian penyebaran Covid-19 melalui PPKM Mikro Darurat,” kata Wimboh.

Wimboh menyebut, sampai dengan April ini, pertumbuhan kredit perbankan nasional masih melambat di April sebesar -0,26% mtm (month to month) dan -2,28% yoy (year on year). Sedangkan, pada Mei kondisinya mulai menunjukkan perbaikan menjadi 0,59% mtm dan -1,28% yoy.

Kontraksi kredit tersebut terjadi pada saat suku bunga kredit perbankan telah menunjukkan tren penurunan.

Pada kondisi normal, tingkat suku bunga berpengaruh cukup signifikan mendorong permintaan kredit. Namun, pada kondisi pandemi, permintaan kredit menjadi inelastis dan perubahan suku bunga kredit tidak berpengaruh besar terhadap permintaan kredit.

Di sisi lain, perlambatan kredit masih sulit terutama pada kelompok debitur skala besar atau korporasi terutama di sektor terdampak langsung pandemi Covid-19, yaitu transportasi, hotel, restoran, cafe dan di sektor hilir yang menjadi dampak ikutan lainnya.

Namun, terdapat beberapa sektor yang tumbuh positif, terutama industri telekomunikasi dan komoditi berbasis ekspor.

“Pertumbuhan kredit bergantung pada pemulihan confidence pelaku usaha dan normalisasi aktivitas sosial ekonomi masyarakat yang bermuara pada keberhasilan penanganan pandemi melalui akselerasi vaksinasi dan kedisiplinan mematuhi protokol kesehatan,” katanya.

Sementara itu, dari sisi risiko kredit, sampai dengan Mei 2021, nilai kredit yang direstrukturisasi mencapai Rp 781,9 triliun atau 14,17% dari total kredit yang diberikan kepada 5,12 juta debitur.

Adapun dari perkembangan terbaru data Covid-19, pemerintah kembali mengumumkan pertambahan kasus Covid-19 yang pada hari ini Selasa (6/7/2021) yang mencetak rekor tertinggi, yakni 31.189 kasus dalam sehari. Rekor ini memecahkan rekor yang tercipta sehari sebelumnya, yakni 29.745 kasus.

Dengan pertambahan kasus tersebut maka total konfirmasi positif sejak pandemi hingga hari ini menembus 2.345.018 kasus.

KomunitasTodays.co Klik izinkan notifikasi untuk menerima berita dan pembaruan dari kami
Dismiss
Allow Notifications