21st June 2021

FOLLOW US ON SOCIAL

Diposting

09
Juni
2021

Lonjakan Kasus Corona di Jateng, Ganjar Pranowo: Kami Sudah Peringati Berkali-kali Sebelumnya

JATENG, KT – Melonjaknya kasus aktif Covid-19 di Kudus, Jawa Tengah (Jateng) pasca libur lebaran 2021, disinyalir akibat dari daerah tersebut itu menjadi tujuan tempat ziarah bagi para wisatawan religi dan banyak orang.

Khususnya, Gubernur Jawa Tengah (Jateng)  Ganjar Pranowo mengaku bahwa pihaknya jauh sebelum Lebaran sudah mewanti-wanti  akan adanya potensi kenaikan kasus usai libur panjang. Namun ternyata hal itu tetap terjadi, bahkan sekarang meluas ke delapan daerah lainnya.

“Sebenarnya sebelum kejadian ini kita sudah berkali-kali mengingatkan, tapi memang segala peringatan tidak sedemikian mudahnya terinternalisasi dan dilaksanakan di lapangan, tapi itu bagian mitigasi yang kita sudah tahu,” ujar Ganjar saat on air di Radio 107,5 PRFM News Channel, Rabu 9 Juni 2021.

Ganjar mengakui awalnya tidak menduga ledakan kasus akan terjadi di Kudus, sebab awalnya ia menilai akan terjadi di kota-kota besar yang banyak didatangi pemudik.

Namun ternyata Kudus menjadi daerah yang mengalami lonjakan kasus pertama di Jawa Tengah, kemudian menyebar ke kabupaten/kota sekitarnya. Total ada delapan daerah yang zona merah yaitu Kudus, Jepara, Pati, Demak, Grobogan, Sragen, Brebes, dan Tegal.

“Pada awal saya lihat ada kepanikan dari Pemkab (Kudus) untuk menanganani, sehingga harus membereskan tempat-tempat kerumunan, dan di sana ada tempat ziarah, wisata religi,” ucapnya.

Sebagai langkah penanganan, Ganjar mengungkapkan kabupaten dan kota di sekitar Kudus sudah menyatakan kesanggupannya membantu perawatan pasien Covid-19.

Selain itu, bagi masyarakat yang dinyatakan positif Covid-19 tapi tidak bergejala disarankan menjalani isolasi mandiri yang tempatnya telah disediakan oleh pihak pemerintah daerah.

Isolasi mandiri di rumah sebenarnya saat ini tidak disarankan, karena menurut Ganjar hal itu justru lebih berisiko menularkan ke anggota keluarga atau lingkungan sekitar. Namun ia memahami banyak masyarakat yang masih enggan diisolasi mandiri di tempat khusus.

“Mereka yang kondisi tanpa gejala tak perlu dirawat di RS, cukup isoman, dan yang paling bagus adalah terpusat, ditaro di satu gedung apakah hotel, tempat diklat, atau tempat tertentu yang bisa digunakan sehingga fasilitas dan layanan bisa maksimal,” tandasnya. (PMN)

INSTAGRAM

KOMUNITASTODAYS
IKUTI KAMI
Klik izinkan notifikasi untuk menerima berita dan pembaruan dari kami
Dismiss
Allow Notifications