FOLLOW US ON SOCIAL

Diposting

11
September
2021

Vaksinasi Ideologi 4 Pilar, Cegah Radikalisme dan Intoleransi

JAKARTA, KT –  Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meluncurkan bukunya yang ke-22, ‘Hadapi Dengan Senyuman’, bertepatan dengan syukuran ulang tahunnya yang ke-59. Dalam buku ini, Bamsoet mengingatkan agar seluruh anak bangsa senantiasa tetap semangat dan optimis dalam melewati masa-masa sulit pandemi covid-19 serta mewaspadai potensi munculnya penyebaran radikalisme di tengah suasana ekonomi masyarakat yang kian menurun. Mengingat akibat pandemi Covid-19, menyebabkan tekanan dan beban kehidupan rakyat semakin sulit. Berpotensi mendorong tumbuh suburnya radikalisme sebagai solusi instan dan pelarian dari berbagai himpitan persoalan hidup.

“Ditambah fakta sosiologis bahwa kita ditakdirkan menjadi bangsa dengan tingkat heterogenitas yang tinggi, menjadikan kita berada dalam posisi rentan dari ancaman potensi konflik. Dalam perjalanan sebagai sebuah bangsa, sikap intoleransi terhadap keberagaman selalu mewarnai kehidupan kebangsaan. Misalnya pada setiap penyelenggaraan kontestasi politik atau Pemilu, politik identitas seringkali disalahgunakan sebagai alat perjuangan, sehingga menimbulkan polarisasi masyarakat, baik sebelum, selama, bahkan sesudah pemilu dilaksanakan,” ujar Bamsoet dalam peluncuran buku ‘Hadapi Dengan Senyuman’, di kantor Ikatan Motor Indonesia (IMI) Pusat, Jakarta, Jumat (10/9/21).

Turut hadir Menteri BUMN Erick Thohir, Ketua Umum KADIN Indonesia Arsjad Rasjid dan Dirut Bulog Komjen Pol (Purn) Budi Waseso. Hadir pula pengurus IMI Pusat, antara lain Badan Pengawas Brigjen Pol Syamsul Bahri dan Jeffrey JP, Badan Pembina Tinton Soeprapto, Komjen Pol (Purn) Nanan Soekarna, Prasetyo Edi Marsudi, Ricardo Gelael, Sean Gelael, Romi Winata, dan Robert Kardinal, Bendahara Umum Effendi Gunawan, Wakil Ketua Umum Olahraga Sepeda Motor Sadikin Aksa, Wakil Ketua Umum Olahraga Mobil Ananda Mikola, Wakil Ketua Umum Mobilitas Rifat Sungkar, Wakil Ketua Umum Organisasi M. Riyanto, Wakil Ketua Umum IT dan Digital Tengku Irvan Bahran, Wakil Ketua Umum Event dan Internasional Happy Harinto, serta Komunikasi dan Media Sosial Atta Halilintar, Hasby Zamri dan Dwi Nugroho.

Ketua DPR RI ke-20 ini menegaskan, dengan kemajemukan yang bangsa Indonesia miliki, ditambah kondisi geografis sebagai negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, menempatkan Indonesia sebagai ‘center of gravity’ bagi kepentingan komunitas global. Kondisi ini menjadikan Indonesia dalam posisi rapuh terhadap pengaruh dan infiltrasi asing. Karenanya, penghormatan terhadap nilai kebinekaan dalam bingkai NKRI menjadi syarat mutlak untuk menjaga kedaulatan sebagai sebuah bangsa.

“Mengelola keberagaman tidak seharusnya dimaknai dengan memaksakan keseragaman, tetapi lebih pada penghormatan terhadap adanya perbedaan. Karena dari 270 juta rakyat Indonesia, yang terdiri dari 1.340 suku, menggunakan 733 bahasa, serta menganut 6 agama dan puluhan aliran kepercayaan, masing-masing mempunyai kearifan lokal, keunikan, dan ciri khas tersendiri,” jelas Bamsoet.

Ia pin menerangkan, yang diperlukan dalam mengelola kemajemukan adalah kesamaan persepsi dan cara pandang dalam menyikapi keberagaman. Keberagaman harus dilihat sebagai kekayaan yang menyatukan, dan bukan perbedaan yang memisahkan.

“Kesamaan pandangan ini penting, mengingat Indonesia dengan 270 juta penduduknya, memiliki tingkat heterogenitas yang luar biasa dari berbagai sudut pandang, baik latar belakang ekonomi, sosial, politik, serta adat istiadat dan budaya,” pungkas Bamsoet.

Sebagai catatan, selain buku ‘Hadapi Dengan Senyuman’, Bamsoet juga telah menerbitkan berbagai buku. Antara lain, ‘Negara Butuh Haluan’ (2021); ‘Cegah Negara Tanpa Arah’ (2021); ‘Save People Care for Economy’ (2020); ‘Tetap Waras. Jangan Ngeres’ (2020); ‘Solusi Jalan Tengah’ (2020); ‘Jurus 4 Pilar’ (2020); ‘Akal Sehat’ (2019); ‘Dari Wartawan ke Senayan’ (2018); ‘Ngeri-Ngeri Sedap’ (2017); ‘Republik Komedi 1/2 Presiden’ (2015); ‘Indonesia Gawat Darurat’ (2014); ‘5 Kiat Praktis Menjadi Pengusaha No.1’ (2013); ‘Presiden dalam Pusaran Politik Sengkuni’ (2013); dan ‘Skandal Bank Century di Tikungan Terakhir’ (2013).

Sebelumnya ada buku ‘Republik Galau’ (2012); ‘Pilpres Abal-Abal Republik Amburadul’ (2011); “Perang-Perangan Melawan Korupsi’ (2011); ‘Skandal Gila Bank Century’ (2010); ‘Ekonomi Indonesia 2020’ (1995); ‘Kelompok Cipayung, Pandangan dan Realita’ (1991); serta ‘Mahasiswa Gerakan dan Pemikiran’ (1990). (*)

KomunitasTodays.co Klik izinkan notifikasi untuk menerima berita dan pembaruan dari kami
Dismiss
Allow Notifications