FOLLOW US ON SOCIAL

Diposting

11
Oktober
2021

Dugaan Pencabulan 3 Anak di Luwu Timur, KPAI: Sebaiknya Kasusnya Ditangani Polda Sulsel

JAKARTA, KT – Kasus dugaan kekerasan seksual yang dialami tiga anak oleh ayahnya sendiri di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, kembali menjadi sorotan.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti merasa prihatin dan mengecam dugaan kasus dugaan kekerasan seksual anak yang dilakukan ayahnya terhadap tiga anaknya sendiri yang rata-rata masih berusia di bawah 10 tahun.

“Saya mendorong Pemerintah Daerah (Pemda) segera memenuhi hak anak-anak korban untuk mendapatkan rehabilitasi psikologis dan medis. Maupun perlindungan bagi anak-anak korban maupun ibunya,” tegas Retno dalam keterangan tertulisnya, Minggu (10/10/2021).

Selain Pemda, ibu korban dapat meminta perlindungan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Seperti dapat menyediakan rumah aman, rehabilitasi psikologi, pendampingan hukum saat proses pemeriksaan dan juga saat kasus digelar di pengadilan. Jika kasus terus berlanjut di pengadilan

“Saya mengapresiasi pada ibu korban yang melaporkan kejahatan seksual ini, tidak menyembunyikan kasus ini karena pelaku ayah korban. Perjuangan sang ibu akan memberikan persepsi positif juga pada anak-anaknya bahwa sang ibu begitu gigih memperjuangkan keadilan bagi anak-anaknya dan ini bukan perkara mudah,” kata Retno.

Ia juga mendorong kepolisian untuk segera membuka kembali kasus ini, dan jika terbukti, tentu perilaku harus dikenakan UU No. 35/2014 tentang Perlindungan kepada terduga pelaku, karena dalam UUPA kalau pelakunya orang terdekat korban, dapat dilakukan pemberatan sebesar 1/3 masa hukuman.

“Mengingat, orangtua seharusnya melindungi anak-anaknya bukan malah menjadi pelaku kekerasan seksual pada anaknya,” ujar Retno.

Dia melihat, ada perbedaan antara hasil visum polisi dengan hasil visum yang dipegang sang ibu. Maka agar tidak ada fitnah dan saling serang cyber. Sebaiknya kasus tidak lagi ditangani pihak Polres Luwu Timur.

“Sebaiknya kasusnya di tangani Polda Sulawesi Selatan atau Mabes Polri. Nantinya hasil visum dan pemeriksaan psikologis secara independent dilakukan sebagai pembanding dengan temuan Polres Luwu Timur dan P2TP2A Luwu Timur. Ini untuk menghindari konflik kepentingan. Proses harus transparan dan diawasi juga oleh Kompolnas,” terangnya.

Retno menyebutkan, jika ada dua hasil yang sama (dari Kepolisian dan P2TP2A Luwu Timur vs Pemeriksaan Independen) baru bicara kasus ditutup. Jika hasil berbeda maka validkan untuk memproses kasus ini secara transparan hingga proses pengadilan.

“Ini penting, agar korban-korban kekerasan tidak dikorbankan lagi dan pelaku mendapatkan hukuman setimpal sesuai peraturan- perundangan terkait anak. Memang waktu bisa mempengaruhi hasil pemeriksaan fisik, namun trauma korban pasti membekas,” beber Retno.

KomunitasTodays.co Klik izinkan notifikasi untuk menerima berita dan pembaruan dari kami
Dismiss
Allow Notifications