21st June 2021

FOLLOW US ON SOCIAL

Diposting

13
Maret
2021

Upaya Penanggulangan Covid-19 Adalah Vaksinasi

Penyediaan vaksin Covid menunjukan bahwa pemerintah telah mengikuti saran World Health Organization (WHO). Dimana negara memang diwajibkan untuk menyediakan vaksin sebagai salah satu bagian dari strategi upaya mencegah penyebaran virus Covid-19.

Dengan segala kemampuan dan keterbatasan yang ada, pemerintah, rakyat dan seluruh stakeholder yang ada berusaha untuk mengikuti saran dan intruksi dari WHO.

Mereka berusaha untuk mengikuti saran dan intruksi dari WHO, yaitu menyediakan vaksin sebagai salah satu upaya untuk mencegah dan menjadi strategi untuk melandaikan grafik Covid.

Meski ada virus varian baru hasil mutasi virus SARS-CoV2 yang dikabarkan telah masuk ke Indonesia,  namun setidaknya vaksin yang ada masih dapat digunakan lantaran masih ada kesamaan sumber utama virus.

Disamping vaksin, penerapan 3M (memakai masker, sering mencuci tangan dengan sabun, dan selalu menjaga jarak) adalah cara yang paling efektif untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Kebiasaan ini diperkirakan akan terus dilakoni oleh masyarakat Indonesia hingga tahun 2022.

Oleh karena itu masyarakat diingatkan untuk tetap melakukan berbagai aktivitas, termasuk bekerja dengan selalu menerapkan 3M. Dengan cara ini setidaknya dapat mencegah munculnya dampak lanjutan pada bidang ekonomi dan sosial-politik diera pandemi.

Sejak duabelas bulan terahir sebetulnya varian baru hasil mutasi genetic dari virus SARS-CoV2, bukan hanya satu dan dua, tapi ada 4.000-an varian yang sekarang ditemukan diprediksi ada didunia.

Artinya, jika hendak melihat apakah pada vaksin yang ada, termasuk vaksin Sinovac itu efektif (tepat sasaran) untuk mencegah varian-varian yang begitu banyak, harus ditelusuri dahulu dari sisi asal virus yang digunakan sebagai bahan baku utama pembuat vaksin tersebut.

Semua vaksin yang sekarang ini sudah diedarkan dan dikembangkan rata-rata berdasar hasil penelitian yang dilakukan sejak bulan Maret 2020. Vaksin itu sendiri berisi virus atau sebagian dari virus yang sudah dilemahkan.

Tentu saja yang dipakai untuk pengembangan adalah virus yang ada didunia sebelum Maret 2020, yaitu virus yang ditemukan di Wuhan dan diambil pada bulan Desember-Januari-Februari.

Itulah yang diambil dan kemudian dikembangkan di laboratorium. Setelah ini atau varian dari virus yang digunakan dalam vaksin yang sekarang diedarkan tentunya berbeda dengan varian-varian hasil mutasi genetic yang beredar, termasuk B117.

Kemudian varian lain yang ditemukan di Afrika Selatan, Brazil, Amerika, dan juga termasuk Jepang yang baru-baru ini ditemukan varian baru. Selain itu belum lagi 4.000-an varian yang lainnya. Yang dijadikan sebagai pegangan, apakah vaksin ini masih efektif untuk mencegah dan melindungi tubuh manusia dari varian-varian yang begitu banyak, yang merupakan hasil klaim laboratorium pabrik farmasi yang membuatnya.

Berdasarkan keterangan mereka, hasil uji genomic dari virus Covid-19 ini dikomparasikan dengan varian-varian baru yang muncul selama 12 bulan ini, Compatybilitas genomic-nya mencapai 99%, artinya walaupun variannya berbeda tetapi secara structure genetic-nya 99% masih sama.

Dengan demikian maka masih bisa diasumsikan bahwa virus mutasi baru masih tetap bisa dicegah dengan perlindungan dari vaksin yang berasal dari virus yang lama.

Untuk menilai efektif atau tidaknya vaksin, yang pertama adalah dari uji klinis fase III (uji klinis ketiga) pada setiap vaksin yang sudah diedarkan.

Sebagaimana diketahui, ada empat jenis vaksin Covid yang rencananya akan diusahakan pengadaannya oleh pemerintah Indonesia. Yang pertama yaitu vaksin Sinovac yang sudah beredar saat ini. Vaksin Sinovac berdasarkan hasil uji klinis fase III didunia yaitu 50,4%.

Sedangkan hasil uji klinis fase III intern (tertutup) yang mendapatkan laporan sementara dari Indonesia, yang diselenggarakan di Bandung oleh Biofarma dan Unpad sebanyak 65,4%.

Ini adalah dua angka yang bisa kita jadikan sebagai angka rujukan.  Kemudian vaksin yang lain, yang rencananya akan didatangkan juga, itu memiliki efektifitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Sinovac.

Untuk vaksin Pfizer BioNTech yang didatangkan dari Amerika dan Jerman, tingjat efektifitasnya mencapai 95%. Sedangkan AstraZeneca dari UK memiliki efektivitas 92%. Begitu juga dengan vaksin dari Amerika, Moderna, yang efektifitasnya juga 92%.

Artinya pegangan yang bisa dijadikan sebagai angka utama adalah uji klinis fase III tersebut, tetapi Tifauziah mengingatkan harus diketahui bahwa semua vaksin yang sudah beredar didunia saat ini, termasuk yang beredar di Indonesia, itu baru dalam taraf human experimental, yang masih membutuhkan waktu (kesempatan) untuk diuji secara langsung dilapangan lebih lanjut.

Experimental itu dimulai di 11 Desember 2020. Sementara Indonesia mulai dari 13 Januari 2021 ini.

Untuk menilai apakah vaksin ini berhasil atau tidak masih membutuhkan waktu sekitar enam bulan lagi.  Dan menurut Tifa harus ada suatu uji yang disebut sebagai Post Market Evaluation (PME).

Langkah ini harus dibuat oleh masing-masing vaksin yang sudah diedarkan. Karena dari situlah bisa dilihat apakah vaksin ini betul-betul efektif untuk mencegah dan mengendalikan laju persebaran Covid-19.

Saat ini jumlah penduduk dunia yang sudah tervaksin sebanyak 3% dari seluruh penduduk dunia. Kemudian untuk Indonesia sebanyak  1% dari seluruh penduduk di Indonesia.

Artinya sekitar 1,4 juta orang di Indonesia yang baru menjalani vaksin dalam hal ini peran aktif masyarakat akan sangat mendukung vaksinasi secara cepat dan aman.

Oleh : dr. Tifauzia Tyassumau
Penulis adalah Epidemiolog sekaligus pemilik Pusat Pengobatan Herbal, Ahlina Institute

INSTAGRAM

KOMUNITASTODAYS
IKUTI KAMI
Klik izinkan notifikasi untuk menerima berita dan pembaruan dari kami
Dismiss
Allow Notifications