FOLLOW US ON SOCIAL

Diposting

14
Maret
2021

PD GPII Mimika Terbentuk Diisi Tokoh Muda Islam

TIMIKA, KT – Sebagai wadah Pemuda Islam tertua di Indonesia, Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) masih tetap berjaya dalam mengawal kemerdekaan NKRI. Diketahui, saat ini struktur kepengurusan PD GPII Mimika telah terbentuk dan akan segera dilantik oleh Pimpinan Wilayah (PW) GPII Provinsi Papua.

Perlahan tapi pasti, GPII Ormas Kepemudaan berlambang bulan bintang dengan ideologi Islam ini telah menyebarkan sayapnya di seluruh penjuru Indonesia. Salah satu diantaranya adalah kehadirannya di wilayah Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.

Sejak didirikan pada tanggal 02 Oktober 1945 oleh tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia, GPII senantiasa hadir dalam dinamika kebangsaan terlebih dalam memberikan sumbangsih pemikiran demi kemajuan bangsa dan negara.

Berbagai persiapan pelantikan saat ini pun tengah dilakukan oleh panitia yang didalamnya termasuk anggota kepengurusan PD GPII Mimika.

“Kami sedang melakukan kesiapan untuk pelantikan kepengurusan GPII Mimika. Semoga acaranya nanti berjalan lancar dan sukses,” kata Ketua Panitia Pelantikan, Asri Akkas di Timika, Minggu, (14/3/2021).

Menurutnya, kepengurusan PD GPII Mimika telah terbentuk dan diisi oleh tokoh-tokoh muda Islam dan seluruh pemuda dan pemudi dari berbagai elemen di Kabupaten Mimika.

Asri yakinkan bahwa mereka yang tergabung di kepengurusan PD GPII Mimika merupakan representasi dari kader pemuda Islam yang ada di wilayah Kabupaten Mimika, Papua.

Namun sayangnya, Asri Akkas belum mau membeberkan siapa yang telah ditetapkan sebagai ketua umum PD GPII Mimika yang telah ditetapkan oleh PW GPII Provinsi Papua untuk dilantik bersama anggota kepengurusan mendatang.

Nanti juga akan diumumkan saat acara pelantikan. Untuk jadwal pelantikan kepengurusan rencananya awal bulan depan (April 2021),” ujarnya.

Asri menambahkan, GPII Mimika memiliki visi sebagai gerakan intelektual muda Islam. Membudayakan tradisi literasi, kaderisasi, diskusi dan aksi.

“Dengan gerakan literasi bisa memperkaya referensi kader membangun intelektualitas. Dan akan lebih banyak melakukan kegiatan yang riil dan konkrit daripada kegiatan yang bersifat wacana,” pungkasnya. (andrey)