FOLLOW US ON SOCIAL

Diposting

20
Juni
2021

Fakta Terungkap, Tentara Singapura Lebih Makmur dari Prajurit TNI

JAKARTA, KT – Faktanya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Kementrian Pertahanan Republik Indonesia (Kemenhan RI). Pasalnya masih banyak alat utama sistem pertahanan dan persenjataan (alutsista) yang dinilai sudah berusia tua, tak hanya masalah itu saja kesejahteraan para prajurit TNI juga tetap harus diutamakan.

Seperti yang diketahui, Kemenhan tengah menjadi sorotan. Kementerian yang berada di bawah komando Letjen TNI (Purn.) H. Prabowo Subianto Djojohadikusumo merencanakan pengajuan anggaran belanja alutsista dengan jumlah fantastis, sebesar Rp1,7 kuadriliun.

VIVA Militer melaporkan dalam berita Selasa 7 Juni 2021, Prabowo punya ambisi untuk melakukan modernisasi alutsista demi pertahanan dan keamanan negara.

Namun demikian, bukan cuma alutsista saja yang sebenarnya perlu ditingkatkan kualitasnya. Namun juga, kesejahteraan para prajurit TNI yang ternyata masih perlu didongkrak.

Dalam sebuah diskusi pada 5 April 2019, mantan Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat dan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI, Letjen TNI (Purn.) Johannes Suryo Prabowo, membongkar data terkait dana yang dikeluarkan negara khusus untuk para prajurit TNI Angkatan Darat.

Saat itu, Suryo Prabowo membandingkan prajurit TNI dengan personel Angkatan Darat Singapura dalam hal kesejahteraan. Lulusan terbaik Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) 1976 ini membeberkan data yang membuktikan, pemerintah Singapura lebih banyak mengeluarkan dana untuk satu kepala prajurit.

“Jadi kalau jumlah anggaran dibagi per kepala, satu orang untuk Angkatan Darat itu cuma Rp227 juta setahun. Itu buat gaji, latihan dan sebagainya. Kalau Singapura, Rp2,45 untuk satu prajurit setahun,” ujar Suryo Prabowo.

Sebagai gambaran, Suryo Prabowo juga mengambil contoh kasus operasi TNI dalam penumpasan gerakan teroris Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Ditegaskan olehnya, para prajurit TNI yang ditugaskan terjun ke rimba Papua lebih banyak yang mengandalkan kemampuan tempur secara individu.

Itu berarti, para prajurit TNI Angkatan Darat yang bertugas, kurang mendapat sokongan dari alat-alat yang bisa mendukung kinerjanya di lapangan. Oleh sebab itu, dalam pandangannya prajurit TNI Angkatan Darat masih memiliki kelemahan yang cukup signifikan.

“Sebagai ilustrasi, bukan melecehkan. Kita mengejar OPM empat bulan saja enggak dapat,” kata Suryo melanjutkan.

“Kan kita pakai ilmu yang ada di badan kita, tidak punya alat tambahan untuk meningkatkan kapasitas prajurit. Ini menunjukkan bahwa memang saya setuju Angkatan Darat kita lemah,” ucapnya. (VVA)

KomunitasTodays.co Klik izinkan notifikasi untuk menerima berita dan pembaruan dari kami
Dismiss
Allow Notifications